.Hey ini 2012 atau 2013? Kembali ke sini cukup membuat hatiku merah merona. Malu atau apa yah? Lama saya berpikir alasan apa yang tepat untuk menutup blog ini. Banyak memutuskan pilihan yang keliru itu benar (saya lebih sering tidak mau mengakui ini). Dan ini salah satu bagian dari keplin-planan yang tampak jelas. Kadang mengira diri ini cerdas dan lalu membuat tulisan tanpa observasi dan pemikiran yang matang. Karena itu tulisan di blog ini sangat kekanak-kanakan. Saya tertawa dalam hati saat menulis kekanak-kanakan. Sejak dulu mereka yang pernah mengenal dekat selalu menganggap “kekanak-kanakan”, sekeras apa pun saya membantahnya. Maka dengan kekanak-kanakannya blog ini telah mewakili saya dari sudut pandang mereka. Bukankah hanya orang lain yang dapat menilai diri kita? Untuk itu saya memutuskan kembali untuk mengurai makna dari hari ke hari di masa lalu dan memulai yang baru di sini.
Hari ke hari
Sebelum membuka kembali blog ini, saya teringat sebuah buku yang berjudul “Tantangan Mewujudkan Tulisan”. Lagi-lagi hatiku merona. Dia yang menghadiahkannya mengira saya mungkin bisa menjadi penulis hanya dengan membaca tulisan “kekanak-kanakan” di blog ini. Saya baru menyadari sedang tersanjung saat itu tapi tidak peka mengenai arti sebuah tantangan sesungguhnya yang dipancangkan sebagai bendera
peringatan: Hey!! Buktikan kalau kamu benar seorang yang hidup dengan bacaan. Menulislah!!!
Dan yang terjadi, bolehkah menyalahkan jejaring? Ini alasan yang setengah masuk akal dibanding alasan lain. Hampir setengah dari hidup saya yang tidak masuk akal dapat ditemui di sana. Saat membuat postingan kadang tidak ada kesempatan untuk berpikir tentang apa yang dituliskan. Otak saya jadi beristirahat dalam waktu yang lama. Bisa jadi juga itu karena saya memang “kekanak-kanakan”, atau apalah kata mereka.
Alasan lainnya, sering sekali saya hanya bisa menulis saat sedikit pulih dari keterpurukan atau ketika waktu-waktu bahagia memerlukan sedikit pembaruan. Sedangkan setahun ini saya menamainya tahun kesedihan. Kepergian orang-orang terkasih mengisap seluruh inspirasi dari kehidupan ini. Seperti ini kira-kira: Kamu tidak bisa lagi menatap bola mata mereka yang berbicara tentang dunia yang ada dalam genggamanmu, lalu mereka membawa lari gelak tawamu. Sehingga kamu menjadi manusia yang terkesan ‘serius’. Demikianlah sehingga sekarang kamu pura-pura menjadi dewasa. Padahal kamu tahu mereka akan tetap menganggapmu “kekanak-kanakan”, sejauh apa pun kamu mengelak. Hari ke hari hanya ini alasannya mengapa blog ini kosong melompong sepanjang tahun 2012. Alasan lain sudah pasti ada tapi tidak akan saya beberkan semua di sini. Biar saya kelihatan cerdas.
Memulai yang baru?
Mungkin hanya waktu yang baru dan terus berubah dan saya bisa berlari di sampingnya atau mungkin hanya di belakangnya. Siapa yang tahu? Tahun baru selalu disambut membahana dengan gegap gempita kembang api seperti ketika menulis ini. Di pojokan café. Di sini biasanya saya memamerkan wajah sok tahu tentang semua yang termuntahkan dari sebuah pikiran yang selalu dipenuhi kesedihan. Seharusnya saya tidak perlu banyak bertanya dalam hati mengapa kisah ini begitu menyedihkan. Tapi ledakan kembang api di langit sana mengeruk setetes demi setetes kenangan dari sumur keabadian. Hampir saja menenggelamkan dan tidak mengizinkan memulai sesuatu yang baru. Waktu selalu berdebat dengan kenangan tentang kita. Dan kita adalah penonton yang bijak. Penonton yang pintar menilai segala sesuatu dan berharap lebih dari apa yang disuguhkan.
Apa pun itu… saya telah kembali ke sini. Lagi.
2012/12/31
Kekanak-kanakan
Label:
chi bercerita,
curcol
Subscribe to:
Post Comments (Atom)







No comments:
Post a Comment