Beberapa hari terakhir saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Jika tidak sibuk bermain dengan keyboard maka tanganku sibuk dengan remote TV memindah chanel mencari siaran yang menarik. Kesendirian memang memberikan waktu buat berpikir tentang semuanya. Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari kita temukan kesamaan ritme yang membosankan. Bahkan acara TV pun dari chanel yang satu loncat ke chanel yang lain menyuguhkan sebuah cermin dengan jenis acara dan isi yang sama.
Salah satunya adalah fenomena seorang polisi yang tenar melalui tayangan videonya dalam situs youtobe sedang menjangkiti semua acara TV dan saya berani pastikan jutaan masyarakat negeri ini mengkonsumsi makanan yang sama. Dikawal komandannya berziarah ke berbagai stasiun TV yang katanya menunjukkan perubahan citra kepolisian dalam pelayanannya kepada masyarakat. Saya bertanya-tanya seandainya ribuan polisi berbakat sama ikut-ikutan membuat album sekaligus roadshow maka apa yang akan terjadi? Mungkinkah mereka juga akan menggelar konser di tengah demonstrasi mahasiswa ataukah mereka akan menyajikan sebuah lagu dengan kisah cinta rakyat ketika mereka menggusur pedagang kaki lima ?
Salah satunya adalah fenomena seorang polisi yang tenar melalui tayangan videonya dalam situs youtobe sedang menjangkiti semua acara TV dan saya berani pastikan jutaan masyarakat negeri ini mengkonsumsi makanan yang sama. Dikawal komandannya berziarah ke berbagai stasiun TV yang katanya menunjukkan perubahan citra kepolisian dalam pelayanannya kepada masyarakat. Saya bertanya-tanya seandainya ribuan polisi berbakat sama ikut-ikutan membuat album sekaligus roadshow maka apa yang akan terjadi? Mungkinkah mereka juga akan menggelar konser di tengah demonstrasi mahasiswa ataukah mereka akan menyajikan sebuah lagu dengan kisah cinta rakyat ketika mereka menggusur pedagang kaki lima ?
Di saat yang sama media massa juga memblow-up sekian banyak berita berkaitan terorisme. Menayangkan bagaimana kepolisian yang sigap setiap kali ada barang mencurigakan yang disangka bom. Tidak berhenti di sini media massa pun mengangkat isu penculikan yang mengatasnamakan suatu agama tertentu yang dianggap mengancam integritas negeri ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Kasus Bank Century menghilang entah kemana menyusul kasus City Bank mulai redup lalu rencana renovasi gedung Dewan Perwakilan Rakyat yang akan menghabiskan anggaran negara sebesar trilyunan rupiah. Siapakah yang memiliki kepentingan atas semua ini? Bagaimana relasinya dengan kita? Semua hal yang kita miliki telah terjual dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya.
Bagaimana dengan saya? Saya sendiri sejak beberapa hari yang lalu telah resmi menjadi pengangguran setelah mengajukan surat pengunduran diri ke kantor Yang Terhormat Direktur tempat di mana saya bekerja sebelumnya. Setelah tiga tahun bekerja di bawah tekanan perusahaan yang mengatur karyawannya dengan disiplin ketat agar memberikan pelayanan demi kepuasan pelanggan lalu berakhir dengan pesangon sebuah senyuman basa-basi yang dipaksakan. Tiga tahun tanpa jaminan keselamatan kerja dengan ancaman pemotongan gaji dan yang paling hebat adalah keterlambatan pembayaran gaji menyusul denda yang seharusnya dibayarkan perusahaan namun tidak pernah ditepati. Prestasi apa yang telah saya raih di dalam perusahaan itu? Sebuah pertanyaan yang justru melegakan bagi saya. Saya senang tidak mencapai prestasi apa pun yang memberikan keuntungan lebih besar dan pada akhirnya yang menikmati adalah tuan-tuan yang terhormat itu.
Hari ini tepat tanggal 1 Mei para buruh kembali turun ke jalan menuntut haknya. Hak yang mana? Sudah berapa tahun para buruh memperjuangkan untuk mendapatkan tunjangan/jaminan keselamatan kerja, bonus dan hari libur dan sudah berapa banyak perubahan yang terjadi terhadap kehidupan yang dikuasai kapitalisme? Peringatan hari buruh bagi saya tidak sekedar sebuah perhitungan dengan perbandingan seberapa banyak keuntungan yang saya peroleh sebagai buruh dengan seberapa banyak keuntungan bagi perusahaan dalam angka-angka yang dapat dikalkulasi. Lebih dari itu otak saya dibayangi tentang tujuan kemanakah harapan, cita-cita, impian atau apa pun namanya yang dimiliki manusia?
Mencapai sebuah kehidupan yang lebih baik adalah harapan milik semua manusia sedangkan cita-cita merupakan target untuk memacu ke arah sana dan jawabannya sekali lagi seragam yaitu, bekerja. Tidak terpikir sebuah alternatif lain ketika menyaksikan realitas kehidupan. Manusia mengorbankan waktu dan menggadaikan tenaganya demi mencapai cita-cita dan impian sesuai harapan mereka. Kehidupan yang lebih baik itu sendiri seperti apa bukan tidak ada yang peduli tapi mereka punya jawaban yang juga seragam. Kekuasaan, materi dan prestige. Para orangtua kebingungan memilih susu mana yang tepat untuk dikonsumsi oleh bayinya karena mereka sibuk bekerja dan tidak punya waktu memberi ASI. Pemerintah tidak bisa mengambil sikap tegas terhadap perusahaan-perusahaan yang memproduksi susu bukan hanya kali ini, namun ini sebuah contoh kecil betapa ada kekuasaan yang jauh lebih besar. Para orangtua menjalin relasi bisnis seluas-luasnya dan memburu keuntungan sebesar-besarnya agar anak-anak mereka nantinya mendapatkan pendidikan tinggi di tempat yang katanya banyak mencetak generasi penerus yang berkualitas dan pada akhirnya dapat melanjutkan bekerja sebagaimana orangtua mereka memperjuangkan kekuasaan, materi dan prestige yang mereka cita-citakan. Kebutuhan atau keinginan adalah suatu hal yang sama saja bagi mereka ketika media mempropaganda semua hal menjadi mudah untuk mereka konsumsi. Memperluas relasi berbanding lurus dengan keuntungan sebesar-besarnya sehingga dalam praktisnya kepentingan ini jauh lebih diutamakan daripada kepentingan manusia lainnya. Ketika manusia berlomba mencapai kepentingan mereka masing-masing maka tidak ada lagi istilah berbagi kecuali berbagi keuntungan.
Manusia memiliki keunikannya masing-masing yang berbeda sekaligus juga memiliki kekurangan sehingga disebut sebagai makhluk sosial. Seharusnya pun mereka memiliki kesempatan yang luas untuk mengkreasikan keunikannya dan saling menutupi kebutuhan atas kekurangan yang melekat pada dirinya. Manusia melupakan kodratnya demi mendapatkan kekuasaan, materi dan prestige yang kemudian dipamerkan dengan penuh kebanggaan satu sama lain. Lalu harapan apa yang seharusnya diperjuangkan di tengah keterasingan ini? Sebagai penonton, bagaimana kita tidak bisa tidak menjadi muak pada model dan system kehidupan yang kita saksikan? Kepada mereka yang sedang menikmati hari buruh, ini adalah kesempatan berpikir sekali lagi bahwa kita hanya butuh berbagi untuk hidup. Tanpa menggantungkan keselamatan kerja, bonus besar dan hari libur pada sebuah system yang membunuh kehidupan kita yang sesungguhnya.
Bagaimana dengan saya? Saya sendiri sejak beberapa hari yang lalu telah resmi menjadi pengangguran setelah mengajukan surat pengunduran diri ke kantor Yang Terhormat Direktur tempat di mana saya bekerja sebelumnya. Setelah tiga tahun bekerja di bawah tekanan perusahaan yang mengatur karyawannya dengan disiplin ketat agar memberikan pelayanan demi kepuasan pelanggan lalu berakhir dengan pesangon sebuah senyuman basa-basi yang dipaksakan. Tiga tahun tanpa jaminan keselamatan kerja dengan ancaman pemotongan gaji dan yang paling hebat adalah keterlambatan pembayaran gaji menyusul denda yang seharusnya dibayarkan perusahaan namun tidak pernah ditepati. Prestasi apa yang telah saya raih di dalam perusahaan itu? Sebuah pertanyaan yang justru melegakan bagi saya. Saya senang tidak mencapai prestasi apa pun yang memberikan keuntungan lebih besar dan pada akhirnya yang menikmati adalah tuan-tuan yang terhormat itu.
Hari ini tepat tanggal 1 Mei para buruh kembali turun ke jalan menuntut haknya. Hak yang mana? Sudah berapa tahun para buruh memperjuangkan untuk mendapatkan tunjangan/jaminan keselamatan kerja, bonus dan hari libur dan sudah berapa banyak perubahan yang terjadi terhadap kehidupan yang dikuasai kapitalisme? Peringatan hari buruh bagi saya tidak sekedar sebuah perhitungan dengan perbandingan seberapa banyak keuntungan yang saya peroleh sebagai buruh dengan seberapa banyak keuntungan bagi perusahaan dalam angka-angka yang dapat dikalkulasi. Lebih dari itu otak saya dibayangi tentang tujuan kemanakah harapan, cita-cita, impian atau apa pun namanya yang dimiliki manusia?
Mencapai sebuah kehidupan yang lebih baik adalah harapan milik semua manusia sedangkan cita-cita merupakan target untuk memacu ke arah sana dan jawabannya sekali lagi seragam yaitu, bekerja. Tidak terpikir sebuah alternatif lain ketika menyaksikan realitas kehidupan. Manusia mengorbankan waktu dan menggadaikan tenaganya demi mencapai cita-cita dan impian sesuai harapan mereka. Kehidupan yang lebih baik itu sendiri seperti apa bukan tidak ada yang peduli tapi mereka punya jawaban yang juga seragam. Kekuasaan, materi dan prestige. Para orangtua kebingungan memilih susu mana yang tepat untuk dikonsumsi oleh bayinya karena mereka sibuk bekerja dan tidak punya waktu memberi ASI. Pemerintah tidak bisa mengambil sikap tegas terhadap perusahaan-perusahaan yang memproduksi susu bukan hanya kali ini, namun ini sebuah contoh kecil betapa ada kekuasaan yang jauh lebih besar. Para orangtua menjalin relasi bisnis seluas-luasnya dan memburu keuntungan sebesar-besarnya agar anak-anak mereka nantinya mendapatkan pendidikan tinggi di tempat yang katanya banyak mencetak generasi penerus yang berkualitas dan pada akhirnya dapat melanjutkan bekerja sebagaimana orangtua mereka memperjuangkan kekuasaan, materi dan prestige yang mereka cita-citakan. Kebutuhan atau keinginan adalah suatu hal yang sama saja bagi mereka ketika media mempropaganda semua hal menjadi mudah untuk mereka konsumsi. Memperluas relasi berbanding lurus dengan keuntungan sebesar-besarnya sehingga dalam praktisnya kepentingan ini jauh lebih diutamakan daripada kepentingan manusia lainnya. Ketika manusia berlomba mencapai kepentingan mereka masing-masing maka tidak ada lagi istilah berbagi kecuali berbagi keuntungan.
Manusia memiliki keunikannya masing-masing yang berbeda sekaligus juga memiliki kekurangan sehingga disebut sebagai makhluk sosial. Seharusnya pun mereka memiliki kesempatan yang luas untuk mengkreasikan keunikannya dan saling menutupi kebutuhan atas kekurangan yang melekat pada dirinya. Manusia melupakan kodratnya demi mendapatkan kekuasaan, materi dan prestige yang kemudian dipamerkan dengan penuh kebanggaan satu sama lain. Lalu harapan apa yang seharusnya diperjuangkan di tengah keterasingan ini? Sebagai penonton, bagaimana kita tidak bisa tidak menjadi muak pada model dan system kehidupan yang kita saksikan? Kepada mereka yang sedang menikmati hari buruh, ini adalah kesempatan berpikir sekali lagi bahwa kita hanya butuh berbagi untuk hidup. Tanpa menggantungkan keselamatan kerja, bonus besar dan hari libur pada sebuah system yang membunuh kehidupan kita yang sesungguhnya.









. Namun dengan pertimbangan sok bijak memandang kehidupan maka segala kelebay-an itu pun saya putuskan untuk di sensor. Sumpah saya masih tetap menganggap kalian teman berbagi yang asyik dan mungkin akan ada waktu yang tepat untuk kita mengurai makna bersama.
