Semula ingin menulis tiap hari selama ramadhan tapi kegiatan tidur itu hampir tidak bisa dikendalikan. Ini hari ke-9 di Makassar dan puasa ke-16 dan akhirnya memantapkan hati membuka notebook. Selama ini kegiatan lebih banyak di rumah bermain dengan ponakan. Sesekali keluar kangen-kangenan sambil buka puasa bareng teman kuliah dulu. Lalu menjawab beberapa pertanyaan klasik mereka. Tentu saja saya sudah tampak kebal. Itu terpancar dari wajah mereka setiap mendengar jawabanku. Jawaban yang berlebihan dan terlalu diplomatis menurut mereka. Saya semakin yakin memiliki otak yang lamban sebagai harta satu-satunya. Seiring kesuksesan yang mereka raih kurasa memang semua orang mudah berubah.
Ini akan menjadi lebaran kedua tanpa Mamak dan tentu saja tanpa Bapak juga. Semuanya mulai melanjutkan hidup. Saudariku yang sudah menikah mengatur hidupnya masing-masing. Tidak ada lagi acara kumpul keluarga untuk merayakan lebaran bersama. Bahkan si Bungsu rencana memenuhi undangan lebaran bersama calon mertuanya. Diantara kecemasan memikirkan kesendirian ini saya hanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat kondisi ini. Lucu mengenaskan. Seperti burung yang kehilangan sangkarnya rupanya saya ini. Semacam sepanjang hidup merasa dirinya adalah seekor burung yang seharusnya terbang bebas. Ketika ia punya kesempatan untuk terbang lalu ia menyadari tidak secuil pun sayap tumbuh di punggungnya. Halah… ini lebih tepat seperti kisah bebek bermimpi jadi burung.
Entah waktu atau kesendirian itu sendiri bersekutu memberi kesempatan untuk lebih banyak bicara pada diri sendiri. Menyaksikan keadaan di sekitar kamu dan risih menyadari dirimu adalah penonton yang buruk. Itu adalah penderitaan sesungguhnya. Sering saya menuduh diri sendiri adalah penyebab semua ketimpangan ini. Bagaimana mungkin saya bersenang-senang ketika orang di sekitar diriku mengalami penderitaan panjang. Dan lalu di lain kesempatan menikmati setiap momen pengalaman dan pengetahuan baru memasuki diriku. Betapa seringnya saya ingin menghukum diri sendiri tapi juga sama seringnya saya berpikir mengenai apa sebenarnya yang saya inginkan untuk hidup?
Hampir sebulan lewat ini saya mendampingi seorang teman pengidap kanker stadium akhir. Kanker yang sudah menyebar ke paru-paru dan sumsum tulang belakang menyedot seluruh bobot tubuhnya hingga tinggal tulang berbalut kulit dengan pernapasan yang sangat berat setiap detiknya. Tapi matanya, menyiratkan kehidupan yang tidak ingin berakhir. Meski belakangan lidahnya yang mulai sering terasa kering mempengaruhi pengucapannya tapi kami masih sering bercanda layaknya saat masih sehat. Ada ribuan pertanyaan tentang hidup seperti salju turun menimbun tubuhku. Ketika tidur disampingnya; mengelus lengannya yang kurus saat terjaga dan ketakutan. Ada saat-saat tertentu kami membahas tentang hidup dan kehidupan dengan cara kekanakan yang ringan. Apa bedanya dia yang terbaring kesakitan dengan saya. Kadang saya seperti makhluk dengan kepala besar yang tampak bijak mengimbangi ketakutan-ketakutannya. Ini memuakkan. Karena saya hidup dengan badan yang sehat dengan makanan yang cukup tapi tidak bisa melakukan apa pun untuk kemanusiaan. Lagi pula saya lebih sering berpikir untuk apa saya berbuat untuk kemanusiaan? Lalu perbincangan kami berakhir ketika kami masing-masing ingat kalimat “hidup segan mati pun enggan”. Tawa pun pecah tak terhindarkan.
Pelajaran dan hikmah silih berganti datang dalam hidupku tapi tidak cukup membuatku dewasa. Selalu saja saya butuh Mamak dan Bapak. Entah bagaimana tahun-tahun berikutnya. Jelang lebaran kali ini sungguh sepi rasanya. Pilihan kadang sesulit ini. Semoga tidak mudah menyerah – meskipun “harapan” adalah bagian dari kejahatan, manusia tetap memilih berharap. Im a human. Huaaaa… ****
Sekitar jam 11 PM di hari yang sama saya buat catatan ini, derai tawa yang selalu ceria itu pergi menghilang. Sahabatku Dedo telah berpulang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Doa kami mengiringi.






