2009/10/11

Veronika Memilih Mati

Mati lampu, dengan penerangan lilin saya putuskan untuk memulai merangkai kata... ehm . Setelah lewat dua jam menunggu lumayan membantu hati menjadi lebih sabar.... untuk teman yang rela berbaik hati meminjamkan bukunya asalkan saya mau mempreteli isinya... hohoho.

Sang Alkemis dan Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis adalah karya Paulo Coelho yang saya baca sebelum karyanya yang satu ini "Veronika". Berbeda dengan kedua novel sebelumnya yang lumayan membuat jidat berlipat dan mengharuskan saya mengulang-ulang, terkadang harus berhenti di satu titik untuk mencerna dan menyelami setiap kalimat-kalimatnya yang sarat makna. Kali ini meskipun sedikit nyante dan ringan, saya seperti tidak ingin terkecoh lalu tidak menemukan makna sedikit pun di setiap spasinya (palagi adami yang sudah ditandai sama yang punya buku...). Dengan plot yang mengedepankan "keakuan" setiap tokohnya saya seperti berhadapan dengan cermin yang berbeda-beda.

Dengan setting tahun 1997, di sebuah negara, Slovenia, yang merupakan salah satu dari 5 Republik bekas Yugoslavia, cerita di mulai ketika Veronika memutuskan mati. Entah dengan cara yang masuk akal atau tidak, bahkan kita tidak punya hak untuk memilih mengakhiri hidup kita sendiri. Itulah yang membawa Veronika berada di Villete-sebuah rumah sakit jiwa yang penuh sejarah gemilang keserakahan manusia. Tak ada seorang pun yang akan percaya bahwa seseorang hanya karena alasan sebuah koran memuat artikel komputer dengan headline "dimanakah Slovenia" menggugah kecintaannya pada negaranya yang terlupakan oleh penghuninya sendiri menjadi pemicu mengakhiri hidupnya.

Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu punya kesempatan kedua untuk menyelami romantika dan pengalaman spiritual dengan batasan waktu yang singkat? Kalo kamu terjebak dalam rutinitas kehidupan yang tak banyak memberi pilihan maka kali ini mungkin kamu berharap membuat pilihan berbeda yang akan menjadikanmu lebih bebas dan lepas. Itulah yang dilakukan Veronika saat mengetahui kesempatan hidupnya kurang dari seminggu. kita selalu punya rencana termasuk membuat kematian menjadi lebih indah. Padahal kita juga meyakini selalu ada tangan Yang Lebh Kuasa dengan kejutan yang tak pernah disangka-sangka. Paulo Coelho melukiskan bagaimana kuasa itu bergerak bersama tokoh-tokoh penghuni Villete. Kata Carl Gustav Jung bilang " dipanggil atau tidak di panggil Tuhan hadir".


  • Zedka, penderita depresi; akibat terlalu dalam membiarkan seorang laki-laki menghuni ingatan masa lalunya. Menurutnya banyak orang yang tidak ingin terseret cinta, karena banyak menemui kenyataan yang tidak sesuai harapan.

  • Mari, penderita serangan rasa panik (panic attack). kata Nietzche waktu itu bergerak melingkar dimana masa depan dan masa lalu bertemu pada satu kata "saat". Bagi yang tidak mampu mengisi kekosongan dalam "saat" itu akan terjebak dalam nihilisme kehidupan. Dengan caranya Mari mengungkapkan bahwa hampir semua manusia menumpahkan perasaannya dengan rasa takut. Catatannya untuk Eduard sebelum meninggalkan Villete adalah "jika kau hidup, Tuhan akan hidup denganmu, jika kau menolak untuk menempuh ujiannya maka dia akan pergi bertahta kembali di surga yang jauh itu dan dia akan semata-mata menjadi bahan filosofi".

  • Eduard, penderita skizofrenia, sebagai anak dari seorang duta besar Yugoslavia, Eduard mendapat tekanan keras. Ayahnya menginginkan Eduard melanjutkan apa yang telah dirintisnya, demi sebuah nama besar. Satu kekosongan lain yang terus menerus perlu pemenuhan dan tidak menyadari bahwa setiap manusia punya keunikan dengan talentanya masing-masing sehingga setiap orang juga punya kemampuan yang berbeda untuk menjalani hidup.

  • dr.Igor, dokter di rumah sakit Villete, sedang berusaha menyelesaikan tesisnya tentang penyakit yang diakibatkan oleh kebencian dan menamainya Vitriol, sebuah zat beracun mematikan. Keinginan adalah sasaran utamanya. Menurutnya kita semua menginginkan sesuatu yang berbeda. Setiap orang punya mimpi tapi hanya sebagian yang menyadarinya. Itulah yang menyebabkan kita jadi penakut. Lalu membangun tembok yang tinggi untuk menciptakan kenyataan seperti yang kita inginkan. Dengan terus-menerus bekerja maka segala bentuk serangan dari luar membuat rasa benci, cinta, putus asa, serta rasa ingin tahu lambat laun sirna. Apa yang dilakukan orang yang tidak punya hasrat sama sekali, antara hidup dan mati.

  • Veronika, sebagai tokoh sentral dalam novel ini memilih mati untuk keluar dari berbagai bentuk narkose yang jadi pelarian atau tempat sembunyi bagi jiwa-jiwa yang tidak punya keberanian untuk menyambut kematian dan menjalani kehidupan dengan ketidakpastian.

Apakah sebenarnya kematian itu? Kita bisa mengartikannya kehilangan nyawa atau bisa juga seperti orang yang hidup seperti mesin. Sejatinya yang mengerikan bukanlah kematian itu tapi apa yang ada dibaliknya.

Selesaimi Gank saia preteli ... tapi kata Zedka "orang tidak akan pernah belajar bila hanya di ceritai, mereka harus mencarinya sendiri". Kamu akan tahu persis cerita dalam novel ini jika kamu membacanya sendiri.

3 comments:

  1. kayaknya resensinya lebih mantap dari isi bukunya

    ReplyDelete
  2. ah chick baru belajar
    mohon koreksinya
    tapi makasih loh ^_____^

    ReplyDelete
  3. "orang tidak akan pernah belajar bila hanya di ceritai, mereka harus mencarinya sendiri"

    begitulah hidup, karena smua tak semudah dibayangkan....

    a good review...lanjutkan!!!!!!!!

    ReplyDelete