2009/07/21

Buku Wajah


Sebuah resensi buku? atau sampul sebuah buku? atau membahas tentang buku yang berjudul wajah? Tidak ketiganya. Mengiringi fenomenal dari situs Facebook (FB) yang dibangun oleh Mark Zuckerberg. (Berharap-harap tulisan ini juga ikutan fenomenal tentunya... hehehe)

Sebuah catatan sederhana di FB :

"kalo dipikir-pikir, teman FB neh jauh lebih kenal saia ketimbang ibuku sendiri. Bahkan hanya untuk mandi saja saia "harus" umumkan ke seluruh dunia. Sedangkan ibuku, seminggu paling 3-4 kali saling tukar kabar karena jarak yang berjauhan."

Jutaan orang yang berpikir sama dengan saya dan juga tidak sedikit yang tetap asyik dengan segala denyut kesibukan, keresahan, keseharian yang melelapkan dan membius akibat larut dalam arus kehidupan metropolis tumpah ruah dalam buku wajah ini.selayaknya namanya, situs ini benar-benar menampakkan lingkaran wajah yang berputar normal. sekolah untuk kuliah, kuliah untuk kerja, kerja untuk nikah, nikah untuk punya anak, anak pertama lalu anak kedua, terus berpindah dari satu hal ke hal lainya. Sebuah buku yang menggambarkan kehidupan nomadik. Mungkin ini yang disebut nomad metropolis.

Mencoba memproyeksikan diri atas kesimpulan ini kata 'harus' dalam catatan di atas sejatinya mengarah pada kekosongan yang menganga untuk terus menerus diisi. Menyelimuti diri dengan segala rasa penerimaan, rasa normal dan terkendali sampai akhirnya kita lupa eksistensi dimana seharusnya kita beredar. Saya yang seringnya merasa introvert kemudian berpikir selama ini hanya "merasa" karena tiba-tiba saja buku wajah ini seperti ingin membongkar seluruh hal yang biasanya tertutup rapat dalam diriku. Saya senang menikmati setiap spasi yang ada hanya dengan mengamati wajah-wajah yang tampak dalam buku ini.

Mari sejenak menarik diri di keheningan.


Lirik ini mungkin layak mengiringi:

Sang petualang

Laut biru begitu lapang
Dan gelombang menghalau bosan
Petualang bergerak tenang
melihat diri untuk pergi lagi
Diam sejenak... hanya sejenak
Dia merintih pada samudera
Sebebas camar kau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap

(Lirik by: Kantata Takwa)


3 comments:

  1. wajarlah kak...kan di dunia maya ini kita semua tidak harus banyak berpikir ataupun bergelut dgn berbagai tipilogi manusia yang sering tidak seperti yang nampak di dunia realitas yg sebenarnya,,,,hal inilah yang mendorong kita untuk menjadi seseorg yang lebih "terbuka" di dunia maya...buku wajah...our life on the timeline..ato apalah sebutan lainnya...^^

    ReplyDelete
  2. Ini loh blackrealm saia cendrung menyangsikan apa iya yg d dunia maya itu pura2 utamanya FB ini atwkah menampakkan sisi laen diri yg nda punya ruang d dunia sbenarnya..
    Dan memang mlenakan sih..
    Sring2 bkunjung yak
    Kritikan wat tulisan cakar ayamku d tunggu loh ^^

    ReplyDelete