Hoaammm,,, kantuk menyerang setiap mendongeng buat Aqil. Biasanya saya langsung ikut tertidur sampai pagi. Kali ini untuk kesekian kalinya mata terpejam tapi pikiran ke suatu tempat di dunia antah berantah. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk dan memulai dengan kata “hoaaaam”.
Membayar utang catatan agak sulit juga rasanya. Inginnya memilih yang pantas untuk diceritakan – tidak bertele-tele dan inspiratif – tapi apa daya hidupku terlalu sederhana untuk memetik hikmah yang besar. Setiap hari saya ingin menjadikannya keluar dari biasanya. Interaksi dengan siswa di sekolah mau pun rekan kerja. Sejauh yang saya bisa sampai saat ini semacam tidak bergeser dari kondisi dua tahun lalu ketika pertama bergabung di sekolah itu. Maka saya bukan hanya berenang tapi telah tenggelam hingga ke dasar. Hiburan satu-satunya hanya anak lelaki kecil ini.
Hampir setahun dipercayakan pada saya dan melihat perkembangannya setiap saat mengingatkan sebuah pertanyaan bertahun silam. “Jika benar kita menikah, lalu apa kamu sudah punya cara bagaimana mendidik seorang anak?”. Pertanyaan yang tidak pernah bisa saya jawab sejak saat itu hingga kini. Pertanyaan yang menghantui setiap kali menatap Aqil yang tertidur pulas setelah saya bacakan buku favoritnya. Saya rasa kamu benar, saya tidak pernah mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Saya kelimpungan mencari bahan jawaban untuk setiap pertanyaannya yang semakin hari semakin aneh. Bunda “keyakinan” itu apa? Bunda “keadaan” itu apa? Bunda “bisnis” itu apa? Dan seribu macam pertanyaan aneh lainnya. Membuat saya menjadi teramat kecil. Dan dunia yang katanya bulat ini berubah menjadi sebuah tanda-tanya besar. Tidak ada yang dapat saya ajarkan pada anak kecil “sok tahu” ini. Seketika menjelma perempuan dewasa tanpa otak yang sehat.
Ah… saya bisa bercerita banyak jika menyangkut Aqil. Seorang anak yang lahir dari rahim jiwaku. Siapa yang mengatur semua ini? Mama tiba-tiba meninggalkan kami semua. Seorang anak dengan kebutuhan khusus dihadiahkan untuk kakakku. Dan Aqil dipercayakan pada saya ketika seharusnya ia berada di tengah keluarga yang lengkap. Saya harus meluangkan waktu setiap bangun tidur untuk melanjutkan novel yang tidak sempat saya baca semalam karena mendongeng. Saya harus meluangkan waktu untuk belajar menulis ketika ia sudah tertidur. Sebelumnya saya harus mengerjakan pekerjaan rumah-tangga ala ibu-ibu. Dunia saya sangat sempit. Tidak seluas mereka yang melakukan hal-hal luar biasa untuk kemanusiaan. Saya tidak sehebat mereka yang pandai merangkai kalimat yang menggugah dan menginspirasi banyak orang. Aih… saya cukuplah mengidolakan beberapa diantaranya.
Saat tak ada lagi yang bersedia membagi dirinya untukmu maka belajarlah membagi dirimu untuk orang sekitar yang kamu cintai.







No comments:
Post a Comment