Ahhay … sebelumnya diceritakan rutinitasku yang agaknya sungguh membosankan. Butuh merajut beberapa buah bros cantik. Konon merajut dapat melatih kesabaran sehingga seseorang dapat melewati keruwetan hidup lebih ringan. Aku ingin mencoba percaya bahwa kebetulan itu tidak ada. Dan inilah yang terjadi. Seminggu setelah membuat curhatan terakhir, sebuah situs khusus yang aku buat untuk mengupload beberapa hal menyangkut pekerjaan tidak bisa diakses secara mobile. Setelah mikir-mikir sejenak ada baiknya juga sesekali melepaskan Aqil bermain di rumah dan aku sendiri keluar menghirup udara segar di malam hari sambil memperbaiki situs itu.
Akhirnya diriku terdampar di café milik seorang teman lama. Beberapa tamu asing juga sering berkunjung ke sini. Mereka mencari informasi peta wisata di Selayar. Ini menarik. Ketika orang asing yang jauh bisa sampai ke tanah kelahiranku hanya sekedar menikmati pantainya, lautnya, udaranya, budayanya, mengapa aku sendiri sama sekali tidak tahu apa-apa, apalagi menikmatinya. Separah itukah rutinitas menjajah sehingga lupa pada kehidupan sekitarku?
Singkat cerita setelah banyak dengar kisah petualangan bawah laut para divers di sepakati untuk memulai ekspedisi pertamaku di Liang Tarrusu – (salah satu spot yang indah untuk snorkeling bagi pemula) – bersama beberapa orang yang juga masih baru. Sayangnya aku tidak bisa mendeskripsikan keindahan bawah laut yang untuk pertama kalinya menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Kamu bisa bayangkan dirimu berenang dalam sebuah aquarium raksasa. Itu dia satu-satunya kalimat yang dapat terangkai dari apa yang dilihat mataku dan seperti itulah aku bercerita pada Aqil yang menghujamiku pertanyaan tentang dunia bawah laut dan spongebob – (Aqil tahu lebih banyak tentang hewan laut dari acara tv dan serial spongebob daripada aku). Sepertinya itu adalah sihir pada pandangan pertama. Meski kulit muka belum pulih dari efek terpanggang sinar matahari dan kulit seluruh badan gosong akibat menyesuaikan dengan air asin minggu berikutnya ekspedisi kedua di Liang Kareta, aku tetap ngotot ikut padahal perempuan yang ikut hanya dua orang tidak sesuai rencana awal karena kesibukan masing-masing –(aku kan memang tidak sibuk hahah). Alhasil yang biasanya ajang seperti ini dimanfaatkan untuk menyalurkan kenarsisan dengan berfoto yang terjadi benar aku didaulat untuk jadi fotografer dadakan. Masalahnya aku akan kelihatan aneh jika bergabung di foto beramai-ramai. Ibarat gadis di sarang penyamun. Walau pun kecolongan juga ternyata salah seorang teman dengan tidak sopan mengupload foto diriku yang keliatan cuma kepala padahal saat itu aku sedang berjuang menarik pelampung yang kelonggaran dan hampir menutupi kepala. Huft … kesenangan biasanya memang harus dibayar.
Dari sinilah berawal keinginan baru – membeli peralatan menyelam – dengan setengah keyakinan ini sesuatu yang sifatnya sementara seperti biasanya. Lalu apakah rutinitas yang tadinya membosankan itu menjadi lebih menyenangkan? Rutinitas tetaplah seperti adanya dan kesenangan diluar rutinitas adalah hal lain ketika aku ingin belajar sesuatu yang berbeda.
2013/05/18
Melaut (1)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)







No comments:
Post a Comment