2010/12/22

Catatan Kelas Jurnalistik

Hari Pertama

-Perkenalan-

Semalam saya mengikuti kelas Jurnalistik yang diadakan Malcom di Infohouse Linonipi. Bersama beberapa orang yang baru saya kenal. Dedy (seperti ini namanya diperkenalkan) sebagai pembicara memaparkan tentang Jurnalistik mulai dari sejarahnya yang berlatar kebesaran Romawi yang kemudian berkembang menjadi suatu bidang kajian yang melahirkan istilah Jurnalism. Mungkin karena kelas baru dan belum saling mengenal sehingga suasana masih dingin dan canggung. Lepas dari itu diskusi diseputar materi tetap bisa berjalan asik. Terutama bagi saya yang masih baru. Ya mudah-mudahan saja bukan bagian dari ikut-ikutan lagi mengingat motivasi dan tujuan saya juga tidak jelas selain hanya ikut "nguping" seperti biasanya.

-Yang Sempat Dicatat-

Ini bukan catatan sebenarnya dalam arti bahwa saya memang tidak suka membuat catatan seperti menulis notulen atau mencatat penjelasan dari guru seperti disekolah atau semacamnya. Semua yang saya tuliskan ini hanya deskripsi dari apa yang tersimpan dalam otak ketika mendengarkan materi dipaparkan. Kita mulai saja dari catatan sejarah Jurnalistik. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya bahwa awal mula istilah Jurnalistik itu ditarik dari kebiasaan bangsa Romawi menuliskan kegiatan senat dalam sebuah catatan harian yang disebut "akta diurna". Fungsinya di jaman itu adalah untuk menginformasikan kepada seluruh masyarakat Romawi tentang kegiatan pemerintahan. Untuk membuka wawasan tentang definisi jurnalistik, Dedy mengungkap kisah Nabi Sulaiman dan burung Hud-Hudnya yang membawa informasi tentang kepemimpinan seorang Ratu yang menguasai sebuah negeri yang besar dan makmur yang kemudian dikenal dengan gelar Ratu Balqis. Jadi singkatnya jurnalistik adalah mengumpulkan informasi dan mengolahnya menjadi sebuah berita. Dalam bahasa inggris berita berarti NEWS yang merupakan singkatan dari Nort-East-West-South. Berdasarkan singkatan ini dapat disimpulkan pula bahwa informasi yang dimaksud bisa datang dari berbagai macam narasumber atau pun kejadian. Informasi yang diperoleh kemudian disusun menjadi sebuah berita yang siap disampaikan ke khalayak. Ketika mengolah berita ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu; unsur, jenis, ukuran, bentuk (yang dua terakhir ini ngira-ngiraja karna kulupai ntah benar ntah salah hahah) .

-Berita-

Suatu berita harus memenuhi unsur-unsur utama 5W + 1H (what, when, where, why, who, how). Sebagai contoh: "Kebakaran tadi pagi di Pasar Butung menghabisi hampir seluruh bagian pasar. Keterangan yang diperoleh dari salah satu pemilik toko bahwa api berasal dari sambungan listrik yang korslet. Pemadam kebakaran terlambat tiba dilokasi namun cukup menolong memadamkan api sehingga tidak melahap gedung lain yang ada di sebelahnya". (heheh ... ini berita karangan saya). Menghadirkan berita dengan menyajikan unsur utama ini diharapkan sudah mewakili inti berita yang sebenarnya ingin disampaikan apa pun jenis beritanya.

Adapun jenis berita dibedakan menjadi dua yaitu; Straight News dan Feature News. Straight news adalah jenis berita yang susunannya mengikuti piramida terbalik menurut urutan paling penting, penting, kurang penting, tidak penting. Jika ingin menulis berita jenis Straight news jangan sekali-kali menempatkan hal yang tidak penting di awal berita karena pembaca tidak akan tertarik mengetahui lebih jauh. Berita jenis Straight news ini juga terbatas dalam waktu yang sempit dimana beritanya harus disampaikan sesegera mungkin agar tidak basi. Sebagai contoh bisa diambil contoh berita yang saya buat di atas tentang kebakaran. Bila disampaikan setelah sebulan kemudian berita itu bukan lagi berita jenis Straight news. Ciri lainnya adalah berita yang disampaikan apa adanya, faktual dan tidak ada unsur abstrak di dalamnya. Di media tv mungkin bisa di ambil contoh breaking news. Berbeda dengan Feature news susunannya zigzag (ngarangka lagi ... ada gambarnya tapi nda bisaka tampilkan di sini jadi pokoknya begitulah ... hihih). Unsur-unsur yang ada dalam sebuah informasi dapat diperluas atau dipersempit berdasar keahlian penulis mengolah beritanya sehingga menarik untuk dibaca sekaligus mampu mengajak pembaca berpikir dan merenung mengenai dampak dari tema yang di angkat dalam berita tersebut. Umumnya dari segi human interest yakni menyinggung sisi kemanusiaan sehingga mudah membangkitkan reaksi pembaca seperti kejadian meletusnya Merapi atau bencana alam lainnya yang sangat dekat dan dialami masyarakat pada umumnya.

Nah, yang sempat nyangkut di otakku hanya ini dari 3 jam waktu berlangsungnya kelas jurnalistik. Kekurangan yang bisa saya ungkapkan adalah minimnya referensi yang dimiliki peserta. Termasuk saya yang sepertinya tidak peduli dengan dunia jurnalistik selama ini. Sekali lagi, kemanakah saya selama ini? hahaha ... saya ucapkan terimakasih dibukakan tempat belajar yang nyaman dan terbuka. Semoga masih bisa ikut di program "nguping" berikutnya dan bisa saya share lanjutannya di sini. Yang mau ikutan yuk mariii ... mumpung gretongan neh ...

No comments:

Post a Comment